Minggu, 26 Oktober 2014
Prolog
Prolog
Bumi basah lagi. Hujan membuat
semuanya semakin sulit dilupakan. Aku berhenti menangis. Terlintas hangatnya
pelukan dan dinginnya kenyataan. Sebuah ironi bukan?
Aku berjalan di jalanku. Seorang
diri. Menyeret langkahku pelan. Langkahku yang berbekas. Lalu lampu mulai
temaram. Kamu ingin aku berlari agar tak ada jejak yang ku tinggalkan, yang
bisa kau ikuti. Berarti kau mencari? Menelusuri? Berharap menemukanku disatu
tempat suatu saat? Berarti aku kau cari?. Kamu melewatinya dengan lebih bijak,
setidaknya itu yang ku dengar. “Teruskan langkahmu, bersama laki-laki yang ada
di depanmu. Akan ku simpan wajahmu di setiap sudut mataku memandang.”
Apanya
yang bahagia? Kita berjalan masing-masing dan nyatanya masih saling mencari.
Rasa yang di tanamkan terlanjur mengakar. Bila malam datang, resah terbaring di
kamarku. Berangan-angan. Berandai-andai, hingga lelah dan tertidur. Dalam
mimpi, Ku cari sisa suara suara mu di ruangan hitam. Tak ku temukan. Ku cari
sisa aroma mu di ruangan putih. Tak ku temukan. Ah, bodohnya aku! Kamu warna.
Ku cari kau di ujung pelangi. Aku menemukanmu. Menemukanmu untuk di peluk
sekali lagi, kemudian ku lepaskan. Ku relakan.
Waktunya
aku bermabuk-mabukkan. Tapi dengan apa? Bergelas-gelas minuman?. Dengan
memejamkan mata dan mengingat pelukan itu. Masih bisa kurasakan. Aku mabuk.
Jan,
22 ‘14
.
PELUK
PELUK
Lepaskan ku segenap jiwamu
Tanpa harus ku berdusta
Karena kaulah satu yang ku sayang
Dan tak layak kau didera
Gemuruh suara gerimis membangunkan ku. Buru-buru ku
pejamkan mata lagi. Berharap bisa melanjutkan mimpiku. Mimpi menyenangkan yang menggangguku,
dan wajah itu.
Baru
beberapa hari sejak kita duduk berdua dan ku katakan semua yang menghancurkan
kita. Perasaan, jiwa, hati. Entah siapa yang lebih hancur. Aku dengan segala
beban ku atau kamu. Sejak malam itu, kita memutuskan untuk menjalani hidup kita
masing-masing. Kamu meyakinkanku , “Kamu bisa, aku ini cuma prolog. Pembuka dan
singkat.” Aku sangat ingin meyakinkanmu bahwa kamu lebih dari itu. Sejak
pertama kita bertemu, wajahmu mulai menggelisahkan ku. Senyummu. Matamu. Hari-hariku
jadi semakin punya arti. Aku berusaha keras melupakanmu tapi nyatanya tidak,
bahkan sedikitpun tidak. Ku cari cara lain, dengan mencoba membencimu. Percuma,
sia-sia.
Tapi
sayangnya malam itu aku cuma bisa diam. Tenggorokanku tercekat. Sesak. Aku
memang tidak pandai berkata-kata. Aku diajarkan untuk diam dan menerima sejak
kecil. Tapi sekali ini saja, untuk cintaku, aku ingin melawan tanpa ingin
menyakiti siapapun. Jauh di dalam lubuk hati ku, aku berharap semuanya akan
baik saja sama seperti sebelumnya. Senyummu, matamu, tetap mewarnai hariku, setelah
ku katakan yang sejujurnya, yang sebenarnya sudah lama kau sadari. Tapi kamu tidak bisa
menerimanya, pilihanmu adalah menjauh dariku.
Musim
hujan, hatiku berdarah. Aku seperti Shinta yang kehilangan Arjunanya. Apapun
yang buruk-buruk pantas untuk menggambarkan hatiku saat ini. Baru beberapa
hari. Ya, beberapa hari. Sekarang hanya aku. Berusaha menyadari kenyataan dan
menyembuhkan luka yang entah sampai kapan akan menyakitiku dan kamu. Akan ku
biarkan hujan memukuli wajahku, biar air mataku larut tanpa ada yang tahu. Tapi
bukan berarti aku melupakan kamu, laki-laki yang mencintaiku. Kamu akan tetap
ku rindukan, tetap ku cintai. Demi Tuhan aku berjanji. Semoga kau dapatkan apa
yang kau cari, yang tidak bisa kau dapatkan dari aku. Dan aku? BANGUN!.
Jan,
21 ‘14
Langganan:
Postingan (Atom)
