Prolog
Bumi basah lagi. Hujan membuat
semuanya semakin sulit dilupakan. Aku berhenti menangis. Terlintas hangatnya
pelukan dan dinginnya kenyataan. Sebuah ironi bukan?
Aku berjalan di jalanku. Seorang
diri. Menyeret langkahku pelan. Langkahku yang berbekas. Lalu lampu mulai
temaram. Kamu ingin aku berlari agar tak ada jejak yang ku tinggalkan, yang
bisa kau ikuti. Berarti kau mencari? Menelusuri? Berharap menemukanku disatu
tempat suatu saat? Berarti aku kau cari?. Kamu melewatinya dengan lebih bijak,
setidaknya itu yang ku dengar. “Teruskan langkahmu, bersama laki-laki yang ada
di depanmu. Akan ku simpan wajahmu di setiap sudut mataku memandang.”
Apanya
yang bahagia? Kita berjalan masing-masing dan nyatanya masih saling mencari.
Rasa yang di tanamkan terlanjur mengakar. Bila malam datang, resah terbaring di
kamarku. Berangan-angan. Berandai-andai, hingga lelah dan tertidur. Dalam
mimpi, Ku cari sisa suara suara mu di ruangan hitam. Tak ku temukan. Ku cari
sisa aroma mu di ruangan putih. Tak ku temukan. Ah, bodohnya aku! Kamu warna.
Ku cari kau di ujung pelangi. Aku menemukanmu. Menemukanmu untuk di peluk
sekali lagi, kemudian ku lepaskan. Ku relakan.
Waktunya
aku bermabuk-mabukkan. Tapi dengan apa? Bergelas-gelas minuman?. Dengan
memejamkan mata dan mengingat pelukan itu. Masih bisa kurasakan. Aku mabuk.
Jan,
22 ‘14
.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar